Sabtu, 19 Januari 2013

4 Hari Untuk Selamanya (Part 2)


Baturaden – Magelang
28 Desember 2012

Sekitar jam 4 sore kami tiba di Baturaden. Cukup mendung langit hari itu, tapi tidak sampai turun hujan. Baturraden dikenal sebagai tempat pariwisata atau peristirahatan pegunungan sejak tahun 1928 yang memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin dengan suhu 18°C-25°C. Secara Geografis Baturraden terletak di sebelah selatan di kaki gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 meter, merupakan gunung berapi terbesar serta gunung tertinggi kedua di Jawa. Baturraden terletak pada ketinggian sekitar 640 meter diatas permukaan laut.

Baturraden adalah keindahan yang memancar dari lereng Gunung Slamet. Lokasi wisata yang berjarak hanya sekitar 15 km dari kota Purwokerto, Jawa Tengah ini, tak hanya menyimpan panorama alam yang molek, tetapi juga cerita rakyat tentang Raden Kamandaka, atau Lutung Kasarung yang cukup akrab di masyarakat Indonesia.

Baturraden (sering juga ditulis "Baturaden") adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa TengahIndonesia. Istilah Baturraden sendiri berasal dari dongeng yang berkembang di masyarakat. Dahulu kala ada seorang putra raja ("raden") yang mencintai seorang pembantu ("batur"). Namun oleh kedua orang tuanya tidak disetujui, dan mengakhiri hidupnya di tempat yang kini bernama "Baturraden".

Sayangnya kami tidak sempat masuk kedalam kawasan Baturraden, karena sore ini juga kami harus melanjutkan perjalanan menuju magelang. Hari mulai gelap saat kami jalan dan hujan pun turun. Jalur yang kami ambil adalah Sumpiuh – Kebumen – Purworejo – Magelang. Di daerah sumpiuh kami istirahat sejenak di Pringsewu. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Singkat cerita kami sampai di magelang sekitar jam 12 malam, dirumah kakek teman saya tepatnya di desa Blabak, Magelang. Yang lain langsung masuk rumah untuk istirahat. Saya dan 2 teman saya memutuskan untuk keluar melihat-lihat lingkungan sekitar karena sekilas saya melihat keramaian dan terdengar suara musik. Ternyata sedang ada acara hajatan di rumah penduduk sekitar, saya tidak tahu persis apakah khitan atau pernikahan. Yang membuat saya tertarik adalah hiburan yang sedang berlangsung. Ada sekitar 13 penari pria dan wanita dewasa dan anak-anak dengan kostum yang nyentrik menurut saya dengan hiasan bulu-bulu dikepalanya. Saya bertanya kepada warga sekitar, mereka menyebutnya ndayakan/topeng ireng.

Topeng Ireng adalah satu bentuk tradisi seni pertujukan yang berasimilasi dengan budaya lokal Jawa Tengah. Topeng Ireng yang juga dikenal sebagai kesenian Dayakan ini adalah bentuk tarian rakyat kreasi baru yang merupakan hasil metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo. Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang ditengah masyarakat lereng Merapi Merbabu sejak zaman penjajahan Belanda dan dilanjutkan perkembangannya tahun 1960-an.Pada saat jaman Pemerintahan Belanda, pemerintah jajahan pada masa lalu melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat. Tarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam. Daya tarik utama yang dimiliki oleh kesenian Topeng Ireng tentu saja terletak pada kostum para penarinya. Hiasan bulu warna-warni serupa mahkota kepala suku Indian menghiasi kepala setiap penari. Senada dengan mahkota bulunya, riasan wajah para penari dan pakaian para penari juga seperti suku Indian. Berumbai-rumbai dan penuh dengan warna-warna ceria. Sedangkan kostum bagian bawah seperti pakaian suku Dayak, rok berumbai-rumbai. Untuk alas kaki biasanya mengenakan sepatu gladiator atau sepatu boot dengan gelang kelintingan yang hampir 200 buah setiap pemainnya dan menimbulkan suara riuh gemerincing ditiap gerakannya.

Malam semakin larut, kami memutuskan pulang dan istirahat untuk melanjutkan perjalanan esok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar